Di sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, ada seorang penjaga parkir bernama Raka. Pekerjaannya sederhana: menata kendaraan, meniup peluit saat jalur padat, dan mengingat plat nomor langganan yang sering datang. Namun belakangan, kepala Raka dipenuhi satu pertanyaan yang terdengar asing bagi orang di pos parkir: apa itu RTP? Ia mendengarnya pertama kali dari obrolan singkat pengunjung kafe yang parkir di tempatnya, lalu kata itu menempel di pikirannya seperti stiker di kaca spion.
Pos parkir Raka bukan sekadar tempat berteduh. Di sana, informasi bergerak lebih cepat daripada kendaraan yang mencari celah. Ada yang membicarakan harga cabai, ada yang debat motor matic paling irit, ada pula yang membahas permainan digital dengan istilah-istilah yang terdengar seperti kode rahasia. Di antara semua itu, “RTP” paling sering muncul, biasanya disertai nada yakin seolah angka tersebut mampu menuntun seseorang pada keputusan yang tepat.
Raka memperhatikan pola: orang-orang yang menyebut RTP biasanya berbicara tentang persentase, “jam bagus”, dan “naik-turun.” Ia tidak langsung percaya, tetapi rasa ingin tahunya menjadi semakin rapi—seperti cara ia merapikan barisan mobil agar tidak mengganggu jalan.
Karena tidak ingin terlihat polos, Raka mulai menyusun definisi dari serpihan percakapan. Ia menangkap bahwa RTP sering dimaknai sebagai Return to Player, yakni persentase teoretis dari sistem permainan yang menggambarkan berapa banyak nilai yang “kembali” kepada pemain dalam jangka panjang. Ia juga memahami kata kunci lain: “teoretis.” Itu berarti angka tersebut bukan jaminan menang untuk tiap orang, apalagi untuk sesi singkat yang hanya berlangsung beberapa menit.
Namun di pos parkir, definisi teoretis sering berubah menjadi mitos praktis. Ada pengunjung yang berkata, “Kalau RTP lagi tinggi, gas.” Ada pula yang menyanggah, “Ah itu cuma angka marketing.” Raka tidak memihak, ia hanya mengumpulkan cerita—seperti mengumpulkan uang parkir receh yang jika ditotal bisa jadi angka yang masuk akal.
Suatu malam, setelah jam ramai mereda, Raka meminjam ponsel adiknya. Ia tidak langsung mencari “cara menang,” karena itu terdengar seperti jalan pintas yang berbahaya. Ia mengetik pelan: “RTP artinya apa” lalu membaca beberapa sumber. Dari sana, ia menemukan bahwa RTP biasanya dihitung dari simulasi panjang dan tidak menggambarkan hasil instan. Ia juga menemukan istilah “volatilitas,” yang membahas seberapa sering hasil kecil muncul dibanding peluang hasil besar yang jarang.
Raka merasa menemukan bentuk: RTP seperti rata-rata cuaca tahunan, bukan ramalan hujan pada jam 9 malam. Ia mulai mengerti mengapa orang bisa kecewa jika menganggap angka itu sebagai kompas mutlak.
“Mas, RTP itu penting ya?” tanya Raka pada seorang pengunjung yang sering parkir, seorang pria berkemeja rapi dengan kebiasaan menunggu di mobil sambil menatap layar.
Pria itu tertawa kecil. “Penting kalau buat ngerti konsep, tapi jangan dianggap tombol keberuntungan. Kadang orang lihat angka, lupa kontrol.”
Kalimat “lupa kontrol” membuat Raka terdiam. Ia membayangkan pengunjung yang buru-buru keluar, wajah tegang, lalu kembali lagi beberapa jam kemudian dengan ekspresi lebih muram. Raka tahu rasa kehilangan, meski dalam konteks berbeda: kehilangan dompet, kehilangan kunci motor, atau kehilangan peluang karena terlambat.
Raka tidak membuat catatan di buku seperti kebanyakan orang. Ia membuat “skema tiga lapis” memakai kertas kecil bekas struk minimarket, lalu menyelipkannya di saku rompi.
Lapis pertama ia tulis: “Definisi.” Di situ ia menulis bahwa RTP adalah angka persentase teoretis jangka panjang, bukan prediksi hasil per putaran atau per sesi.
Lapis kedua ia tulis: “Perilaku orang.” Ia menandai bahwa orang cenderung selektif mengingat: saat cocok dengan harapan, angka dianggap sakti; saat tidak cocok, angka dituduh menipu.
Lapis ketiga ia tulis: “Batas.” Ini bagian paling penting baginya: jika sesuatu membuat seseorang kehilangan kontrol, maka apa pun istilahnya—RTP, jam hoki, pola, atau nama lain—tetap perlu diperlakukan dengan hati-hati.
Raka memperhatikan kemiripan yang lucu. Di parkiran, ada “jam ramai” yang jelas terlihat: selepas magrib, akhir pekan, atau saat ada acara. Orang mudah percaya pada pola yang terlihat berulang. Dari situ, Raka memahami mengapa banyak orang mengaitkan RTP dengan “jam tertentu.” Manusia senang memberi makna pada pengulangan, meski kadang itu hanya kebetulan yang kebetulan terjadi beberapa kali.
Di sisi lain, parkiran mengajarkannya satu hal: pola ramai tidak selalu berarti rezeki lebih besar. Kadang jam ramai justru penuh stres, rawan salah paham, dan lebih banyak komplain. Dengan analogi itu, Raka menilai klaim “RTP tinggi berarti selalu bagus” juga perlu disaring dengan logika yang sama.
Setelah beberapa hari, rasa ingin tahu Raka berubah bentuk. Ia tidak lagi bertanya “berapa RTP sekarang,” melainkan “RTP ini dipakai untuk apa dan bagaimana orang menyalahgunakannya?” Ia menyadari bahwa angka sering dijadikan pembenaran untuk keputusan yang sudah ingin diambil sejak awal. Padahal informasi seharusnya membantu menahan diri, bukan mendorong tanpa rem.
Di pos parkirnya, Raka tetap menjadi penjaga yang sama: mengatur kendaraan, menjaga ketertiban, dan membantu pengunjung yang lupa mematikan lampu mobil. Bedanya, di saku rompinya kini ada tiga lapis kertas kecil—skema aneh yang membuatnya tidak mudah terseret obrolan, sekaligus cukup paham untuk tidak tertipu oleh istilah yang terdengar canggih.