Mahjong Ways dari PGSoft sering terlihat “sederhana” karena tampilannya rapi dan temanya klasik, padahal ritmenya bisa berubah cepat. Dari pengamatan pribadi saat mencoba beberapa pola sesi (pendek, sedang, dan panjang), saya mencatat bahwa hasil terbaik justru datang ketika saya memperlakukan permainan ini seperti membaca cuaca: ada tanda-tanda kecil yang bisa dipakai untuk menentukan langkah berikutnya, terutama soal pengaturan tempo, disiplin batas, dan cara merespons momen bagus tanpa terburu-buru.
Trik pertama yang paling terasa dampaknya adalah membuat peta sesi sebelum menekan tombol putar. Saya membagi sesi menjadi 3 blok: pemanasan (±20–30 putaran), inti (±40–70 putaran), lalu penutup (±10–20 putaran). Di setiap blok, saya pasang dua batas: batas rugi dan batas untung. Pengamatan saya, Mahjong Ways cenderung memberi sinyal lebih jelas di awal sesi—entah terasa “dingin” atau mulai memanas—sehingga pembagian blok membantu saya tidak memaksakan sesi saat ritmenya tidak mendukung.
Banyak orang mengandalkan feeling, tetapi saya lebih percaya pada perubahan pola tampilan simbol. Saat beberapa putaran beruntun hanya memberi hasil kecil tanpa adanya rangkaian yang terasa nyambung, itu biasanya fase yang saya sebut “putaran datar”. Dalam fase ini, saya tidak menambah taruhan. Sebaliknya, ketika mulai muncul rangkaian yang lebih sering tersambung—meski nilainya belum besar—saya anggap sebagai tanda ritme bergerak. Dari pengalaman pribadi, menaikkan taruhan hanya masuk akal setelah ada bukti ritme, bukan sebelum.
Alih-alih skema naik turun klasik, saya memakai pola yang saya sebut Tangga Dua-Lajur. Lajur A adalah taruhan dasar yang stabil. Lajur B adalah taruhan uji yang hanya dipakai ketika ritme mulai terlihat. Caranya sederhana: (1) jalankan Lajur A selama pemanasan dengan nilai yang paling aman, (2) jika dalam 10–15 putaran terakhir muncul tanda ritme (koneksi simbol lebih sering, kemenangan kecil tapi rapat), pindah ke Lajur B selama 5–8 putaran, (3) bila Lajur B tidak memberi perkembangan, kembali ke Lajur A tanpa debat. Skema ini terasa “tidak biasa” karena bukan progresif terus-menerus; ia seperti menyisipkan tes singkat, lalu mundur lagi bila kondisi tidak mendukung.
Supaya tidak terjebak mengejar, saya pakai tiga penanda yang selalu sama: penanda stabil, penanda panas, dan penanda habis jatah. Penanda stabil berarti saldo bergerak naik-turun kecil dalam rentang yang wajar; di sini saya lanjut dengan taruhan dasar. Penanda panas berarti dalam rentang pendek terjadi rangkaian menang yang terasa rapat; di sini saya boleh memakai Lajur B tapi dengan durasi yang sudah ditetapkan. Penanda habis jatah berarti batas rugi atau batas waktu tercapai; di sini saya berhenti, bahkan kalau “rasanya sebentar lagi”. Dari pengamatan pribadi, keputusan berhenti yang disiplin lebih sering menyelamatkan hasil sesi dibanding trik lain mana pun.
Saya tidak mengandalkan jam tertentu. Yang saya perhatikan justru kualitas fokus. Ketika sudah mulai terpancing untuk mempercepat putaran, atau mulai sering mengubah taruhan tanpa alasan yang jelas, biasanya sesi berubah menjadi reaktif. Karena itu saya menetapkan patokan sederhana: jika saya sudah melakukan dua perubahan keputusan berturut-turut hanya karena emosi (misalnya baru kalah lalu langsung menaikkan), maka saya anggap fokus turun dan sesi harus dipotong. Ini terdengar sepele, tetapi paling sering menjadi pembeda antara sesi yang terkontrol dan sesi yang berantakan.
Saya membiasakan menulis ringkas setelah selesai: durasi sesi, pola taruhan yang dipakai, tanda ritme yang muncul, momen keputusan terbaik, dan momen keputusan terburuk. Tidak perlu panjang. Dari kebiasaan ini, saya jadi tahu kecenderungan pribadi: kapan saya mudah tergoda memperbesar taruhan, kapan saya terlalu lama bertahan di fase datar, dan berapa putaran rata-rata sampai saya kehilangan disiplin. Pengamatan semacam ini membuat “tips” jadi benar-benar milik sendiri, bukan meniru orang lain.
Kesalahan umum yang dulu sering saya lakukan adalah membawa ekspektasi sesi sebelumnya ke sesi baru. Ketika sesi kemarin berjalan mulus, saya cenderung memulai lebih agresif hari ini. Ketika kemarin berat, saya ingin “balas”. Padahal, dari pengamatan saya, pendekatan terbaik selalu kembali ke peta sesi: pemanasan dulu, lihat ritme, baru ambil langkah. Dengan begitu, setiap sesi diperlakukan sebagai kondisi baru, bukan kelanjutan emosi yang tertunda.