DUMAI (MR) - Di tengah lapangan hijau yang biasanya dipenuhi teriakan dan langkah kaki para pemain laki-laki, ada satu sosok kecil yang mencuri perhatian di Festival Sepakbola U-10 WGrup Championship, Sabtu (2/5) lalu.
Ia adalah Afiqa Ayesha Adriana, pelajar berusia 7,5 tahun yang berani menantang stereotip bahwa sepak bola hanyalah milik anak laki-laki.
Selama ini, sepak bola identik dengan kekuatan fisik dan stamina prima—dua hal yang sering dilekatkan lebih dulu kepada laki-laki.
Atlet-atlet sepak bola dengan tubuh kekar seakan mempertegas bahwa olahraga ini bukan ruang bagi perempuan. Stigma itulah yang membuat kehadiran seorang Afiqa di tengah kompetisi usia 10 tahun terasa sangat istimewa.

Namun Afiqa justru hadir sebagai pengecualian yang membanggakan. Meski usianya masih di bawah kategori kompetisi, ia tampil percaya diri bersama rekan-rekannya yang berusia 8, 9, hingga 10 tahun dari SSB Persekat. Tidak ada rasa minder, tidak ada ragu—hanya keberanian dan kecintaannya pada sepak bola.
Dalam turnamen tersebut, Persekat memang belum meraih kemenangan. Namun sang pelatih tetap diliputi rasa bangga. Baginya, tampil baik, berani, dan tetap menikmati permainan adalah kemenangan tersendiri. Terlebih bagi Afiqa, yang bukan hanya bersaing dengan lawan, tetapi juga dengan stigma sosial yang selama ini melekat kuat.
Afiqa adalah salah satu dari sedikit pelajar perempuan di Kota Dumai yang aktif berlatih sepak bola di SSB. Di saat banyak anak perempuan memilih hobi yang lebih “umum”, ia justru memilih mengolah bola di antara anak-anak laki-laki.
Setiap sesi latihan, ia membaur tanpa canggung, berlari, menggiring bola, dan bertarung memperebutkan ruang, sama gigihnya dengan pemain lain.

Ia menjadi satu-satunya “bidadari lapangan hijau” di SSB Persekat. Bukan hanya mengikuti kompetisi U-10, Afiqa saat ini juga tengah berlaga di LIGA BOCIL U-8 dan telah menjalani dua pertandingan. Konsistensinya dalam berlatih dan keberaniannya menembus batas usia maupun gender membuatnya mencuri perhatian banyak orang.
Kisah Afiqa adalah pengingat bahwa bakat dan keberanian tidak mengenal jenis kelamin. Bahwa lapangan hijau adalah ruang yang terbuka untuk siapa saja yang berani bermimpi—termasuk seorang anak perempuan kecil dari Dumai yang percaya bahwa bola tidak pernah memilih pemainnya.
Di usia 7,5 tahun, Afiqa telah menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang hati yang kuat, mimpi yang besar, dan keberanian untuk menantang stereotip. Dan dari langkah kecilnya hari ini, siapa tahu lapangan hijau Indonesia suatu hari akan menyaksikan lahirnya bintang perempuan yang menginspirasi jutaan anak lainnya. (*)