DURI (MRC) - Di tepian Sungai Mandau, sejarah panjang industri minyak dan gas bumi di Riau bertemu dengan harapan baru masyarakat desa. Kawasan yang menyimpan jejak awal perkembangan migas tersebut kini memiliki peluang untuk tumbuh menjadi destinasi wisata yang memberi manfaat langsung bagi warga.
Melalui program Desa Wisata dan Kreatif, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendukung pengembangan Tepian Batang Mandau di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.
Bagi PHR, pengembangan kawasan ini bukan sekadar menghadirkan tempat kunjungan baru. Potensi sejarah, lingkungan sungai, dan budaya Melayu menjadi modal untuk membangun kegiatan ekonomi berbasis masyarakat.
Pendekatan tersebut membuka kesempatan bagi warga untuk mengambil peran dalam pengelolaan destinasi, menyediakan layanan wisata, serta mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Tepian Batang Mandau memiliki latar sejarah yang kuat, kawasan Desa Balai Pungut berkaitan dengan keberadaan fasilitas pengeboran migas pertama di wilayah Riau pada 1939.
Jejak tersebut memberi nilai tersendiri bagi pengembangan wisata, karena pengunjung tidak hanya dapat menikmati suasana alam, tetapi juga mengenal bagian dari perjalanan industri migas di daerah tersebut.
Potensi itulah yang menjadi salah satu landasan pengembangan wisata berbasis sejarah, alam, dan budaya. Melalui program yang mulai berjalan pada 2025, PHR mendukung pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Desa (RIPARDES), serta kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pelayanan dan pengelolaan pariwisata.
Dukungan program juga diarahkan pada penyediaan fasilitas yang dapat menunjang aktivitas wisata. Sebanyak tiga sampan wisata disediakan untuk mendukung kegiatan susur sungai. Selain itu, enam gerai UMKM mendapat dukungan perbaikan, tiga papan informasi sejarah dipasang untuk memperkenalkan nilai historis kawasan, dan enam tempat sampah disediakan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan.
Bagi masyarakat, fasilitas tersebut dapat menjadi modal awal untuk mengembangkan pengalaman wisata yang lebih tertata. Sampan dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan kawasan sungai, sedangkan papan informasi membantu pengunjung memahami cerita sejarah setempat. Di sisi lain, perbaikan gerai UMKM membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menawarkan produk kepada wisatawan.
Namun, pembangunan destinasi tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana. Kemampuan masyarakat mengelola kawasan, menyambut pengunjung, menjaga fasilitas, dan merancang kegiatan secara berkelanjutan juga menentukan keberhasilan program. Karena itu, pembentukan Pokdarwis dan pelatihan pengelolaan wisata menjadi bagian penting dari upaya mendorong kemandirian desa.
Dari sisi ekonomi, menurut acuan fact sheet, program Desa Wisata dan Kreatif mencatat potensi perputaran usaha pariwisata dan UMKM mencapai Rp35 juta per bulan. Nilai tersebut menunjukkan peluang ekonomi yang dapat tumbuh seiring meningkatnya aktivitas wisata.
Peluang tersebut dapat dirasakan oleh pelaku usaha yang menyediakan makanan, minuman, dan produk lokal. Kehadiran pengunjung berpotensi memperluas pasar UMKM, sementara kegiatan budaya dan wisata sungai dapat menciptakan momentum bagi tumbuhnya usaha musiman. Dengan pengelolaan yang konsisten, aktivitas pariwisata berpeluang menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Program ini juga mencatat 112 penerima manfaat langsung secara kumulatif. Sementara itu, potensi kunjungan wisatawan lokal disebut melampaui 10.000 kunjungan secara kumulatif per bulan.
Di luar aspek ekonomi, PHR turut menempatkan lingkungan sebagai bagian dari pengembangan kawasan. Fact sheet program mencatat potensi dukungan terhadap pelestarian lebih dari 300 hektare hutan adat dan ekosistem sungai di sekitar desa wisata. Upaya tersebut relevan dengan karakter Tepian Batang Mandau yang mengandalkan daya tarik alam sebagai salah satu modal utama pariwisata.
Pengembangan kawasan ini melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Kabupaten Bengkalis, perangkat daerah terkait, Pemerintah Kecamatan Pinggir, Pemerintah Desa Balai Pungut, Pokdarwis, dan lembaga pendamping desa wisata. Kolaborasi tersebut dibutuhkan agar dukungan sarana dan peningkatan kapasitas masyarakat dapat berlanjut menjadi pengelolaan destinasi yang terarah.
Bagi PHR, program pemberdayaan seperti ini membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat lebih aktif dalam mengembangkan potensi wilayahnya. Sementara bagi Desa Balai Pungut, dukungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengolah warisan sejarah dan kekayaan lokal menjadi aset ekonomi yang dikelola secara berkelanjutan.
Tepian Batang Mandau pada akhirnya memperlihatkan bahwa pengembangan masyarakat dapat berangkat dari potensi yang sudah dimiliki desa.
Ketika dukungan program, kemampuan warga, pelestarian lingkungan, dan peluang usaha berjalan beriringan, sejarah migas tidak hanya menjadi cerita masa lalu. Ia dapat menjadi salah satu pintu bagi tumbuhnya destinasi wisata dan ekonomi lokal yang manfaatnya dirasakan masyarakat.