Seni Mengawas


Dibaca: 8610 kali 
Selasa, 23 April 2019 - 14:39:43 WIB
Seni Mengawas ilustrasi
Oleh: Zulkarnaen, M.Sn
 
"Awas, kita diawasi dia." 
Demikian kalimat yang disampaikan oleh orang-orang yang diawasi. Kalimat itu tak terdengar, namun dapat dibuktikan dengan pengalaman pribadi. Saat diawasi suatu pekerjaan, cara pekerjaan dikerjakan harus cermat. Saat pekerjaaan tidak diawasi, suasana pekerjaan tidak terasa tegang.
 
Itu terjadi di sekolah atau di tempat pekerjaan lain seperti mengawas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Di sekolah misalnya pada saat ini, peserta didik sedang mengikuti Ujian Nasional. Mengawas Ujian Nasional tidak serumit dan secermat mengawas Pemilu. 
 
Bedanya, mengawas Ujian Nasional yang diawasi peserta didik yang berhadapan dengan Soal Ujian yang dibaca di komputer, hanya mengawas supaya peserta didik tidak ribut yang mengganggu ketertiban ruangan hingga mengantarkan peserta didik pada tahapan pekerjaan ujian selesai sesuai prosedur ujian.
 
Mengawas Ujian Nasional di Sekolah SMP  yang berlangsung hari ini, Senin hingga Kamis, 22-25 April 2019 yang dilaksanakan serentak dari sabang sampai merauke, memerlukan energi. Jika tanpa sistem komputer, mengawas pukul 07.00 WIB Sampai pukul 10.00 WIB paling lama, dengan sistem berbasis komputer, pengawas bekerja dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. 
 
Mengapa lebih lama dibandingkan manual? Peralatan ujian berupa komputer sangat minim. Seperti penulis di salah satu sekolah SMP negeri, mengawas sebanyak tiga sesi tiap hari ujian berlangsung, sebabnya komputer dan peserta didik tidak sebanding, bandingnya 3:1  untuk  peserta didik.
 
Apa yang terjadi saat mengawas ujian nasional? Benarkah terkawal dengan baik? Apa yang dialami adalah suasana tertib, saat pengawas mendekati peserta ujian nasional saat pengawas duduk, suasana mulai tak tenang. Tahun 1990-an, "menggertak"  siswa cukup ambil lembar jawaban siswa, susana ujian pun nampak. Sekarang 2019, bisa, cukup matikan komputernya. Namun sampai saat tulisan ini anda baca, tidak dimatikan mematikan komputer.
 
Lain lagi mengawas KPPS, mengawas dengan cermat, apa yang terjadi dari pengucapan sumpah, hingga mengawal kotak suara ke kantor kelurahan. Dari pukul 06.30 WIB hingga pukul 03.00 WIB esoknya efeknya tentu kelelahan dan parahnya ada meninggal dunia. 
 
Bahkan data yg dihimpun TV one tanggal 22 April 2019, Bawaslu mengatakan 26 orang Pengawas TPS meninggal, dari data TV one, 90 orang KPPS, data Metrotv hari yang sama, 61 orang KPPS meninggal, 11 orang Polri meninggal.
 
Ini jadi evaluasi bagi semua pihak, kemarin Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla mengatakan sebaiknya Pemilu tidak digabungkan atau serempak. Demikian pula dengan KPU RI akan menyampaikan fakta ini ke DPR RI.  Sebagai penulis bagian masyarakat Indonesia berharap sama dengan wakil Presiden RI, tidak harus pemilu serentak. Tidak harus lima kotak suara dalam waktu bersamaan.
 
Terakhir, penulis tutup tulisan ini bahwa seni mengawas diperlukan, suasana yang diawasi tersistem dan kondisi badan terjaga. Apapun yang diawasi termasuk yang masih hangat sekarang Ujian Nasional dan Pemilu.
 
*Penulis adalah Guru SMPN Binss Dumai
 Penulis Buku dan berbagai Artikel


KABAR TERKINI