Riau

Kejar Ketertinggalan, Meranti Butuh Bantuan Pusat

SELATPANJANG (MR) - Dukungan kuat pemerintah pusat untuk mengejar ketertinggalan pembangunan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, sangat diharapkan, demikian Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Meranti, Rosdaner.
 
"Jika hanya mengandalkan keuangan daerah maka pembangunan Meranti ke depan masih akan tertatih-tatih," katanya kepada pers di Selatpanjang, Jumat (13/10/2017).
 
Tapi, lanjut dia, jika pusat bersedia mengentaskan kemiskinan di Kepulauan Meranti yang nota bene masuk dalam lokasi prioritas pembangunan pulau terluar, maka tidak terlalu lama Meranti akan mampu sejajar dengan daerah lain di Riau.
 
Menurut Rosdaner, seperti kondisi gedung sekolah yang ada di Meranti saat ini, sungguh banyak yang mesti direhab. Baik rehab ringan maupun rehab total.
 
Bukan itu saja, lanjut dia, sarana dan prasarana sekolah termasuk alat-alat penunjang proses ajar mengajar seperti alat praketek labor maupun hal lain masih sangat jauh tertinggal.
 
Demikian juga kondisi pekarangan sekolah umumnya menurut dia masih banyak yang belum memiliki lahan untuk tempat upacara, begitu juga dengan komplek sekolah yang belum memiliki pagar.
 
"Intinya, masalah infrastruktur disekolah-sekolah di Meranti masih sangat memprihatinkan," ungkap Daner sapaan akrab kadis ini," katanya lagi.
 
Ditambahkannya, dengan berharap kemampuan keuangan daerah untuk membangun berbagai infrastruktur dasar tersebut jelaslah tidak mampu, sebab persoalan ketertinggalan di Meranti begitu komplek.  
 
Untungnya, kata dia Meranti mendapatkan otonomi baru sejak 2009 lalu, sehingga secara perlahan sebagian infrastruktur dasar tersebut menang sudah ditapaki. 
 
"Hanya saja sebagaimana kita ketahui, medan yang sulit dan daerah yang terpencil ini tidak pula didukung oleh keberadaan bahan material bangunan. Jangankan memiliki batu, pasir pun tidak punya," katanya.
 
Diungkapkannya lagi, saat ini harga satuan material seperti pasir cor satu kubik sekira Rp.700.000 di Selatpanjang. 
 
Tapi jika material itu dibawa ke pedalaman maka harga yang harus dibayar menjadi naik 100 persen, sebab yang melansir adalah gerobak yang ditarik motor roda dua.
 
Demikian juga harga batu pecah untuk sampai ke desa terjauh harganya sudah hampir Rp.2 juta/ Km3. Yakni Rp.1.980.000/M3. Batu bata merah Rp.1.550/buah harga saat ini.
 
Begitu juga dengan material lainnya sungguh luar biasa dan kenaikannya kadang tidak terkendalikan.
 
Kenapa demikian, lanjutnya, sebab pelabuhan yang bisa disinggahi kapal membawa material itu  hanya ada di Selatpanjang. Dan bahan galian C tersebut sepenuhnya dibeli dan dijemput dari Karimun selaku kabupaten tetangga.
 
"Inilah kondisi sulit yang dihadapi pemerintah sehingga pelaksanaan pembangunan di Meranti jauh lebih sulit dibanding dengan daerah lainnya. Otomatis kondisi itu butuh dana besar, dan keseriusan pemerintah pusat. Jika pusat membiarkan atau menyamakan Meranti dengan daerah lain. Maka perjalanan pembangunan di Meranti dipastikan akan melambat," kata Tabren. (mcr)
 
 
 
Editor: CS Piliang




Loading...

[Ikuti Monitorriau.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0853-6543-3434/0812-6686-981
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Monitorriau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan