Opini

BENGKALIS & KEMISKINAN KRONIS...

Wahyudi El Panggabean

Jika sebuah daerah dengan kekayaan alam melimpah. Tetapi, rakyatnya, miskin. Berarti pemimpinnya: korup.  (John K Galbraith, Ekonom, Univ. Harvard)

Bengkalis, menangis. 
Fokus publik masih tersita prosesi peradilan, yang mendudukkan Bupati Bengkalis, Amril Mukminin, di kursi "pesakitan".

Masalahnya, tindak pidana korupsi berada pada pusaran aliran dana. Ke sesiapa saja hasil korupsi itu mengalir.

Situasi makin pelik. Ambisi Kasmarni 'tuk menggantikan suaminya lewat Pilbup Bengkalis, Desember mendatang, telah direstui beberapa partai. 

Utamanya Gerindra, yang sempat menuai visi inkonsistensi pendukungnya. Mengingat, suara sumbang para saksi persidangan Amril, yang menuding keterlibatan Kasmarni, terdengar lebih awal.

Kasus ini akan bermuara pada kemungkinan-kemungkinan yang masih berkembang. 

Apakah kemudian Kasmarni jadi "tersangka" menyusul suaminya. Atau kemungkinan lain.

Tetapi, persoalan Bengkalis tidak selesai sampai di situ. Apakah Amril divonnis bersama Kasmarni: The Game Is Not Over.

Tangisan rakyat Bengkalis tidak berhenti dengan menghujat Amril.
So, masalah mereka juga tidak teratasi dengan merindui Syamsurizal.

Dua pekan silam, saya menjenguk daerah super kaya ini. Juga berkesempatan mewawancarai warganya dari berbagai strata. Mulai di pusat kota hingga ke kawasan marginal.

Jawaban dari sampel heterogen justru bermuara pada satu titik: kemiskinan. Inilah yang menjadi bibit lahirnya kejahatan terselubung. Tetapi, terkonsentrasi pada satu stressing: Narkoba.

Semua Narasumber beropini, angka kemiskinan yang terus meningkat akibat terdongkrak eskalasi angka pengangguran.

Saya kemudian mem-browsing data. Dari
553,9 ribu total penduduk Bengkalis, 6,8 persen atau sebanyak 40 ribu orang miskin. 
Angka itu diperparah 24.500 penganggur.

Angka ini makin ironis jika dilirik APBD Bengkalis mencapi Rp 4 Trilyun setiap tahun. Ironisme: "Ayam mati, di atas lumbung".

Padahal, dengan estimasi sederhana saja, formulasi pengentasan kemiskinan di Bengkalis terkesan simpel.

"Saat ini, sekitar 8000 KK total warga miskin Bengkalis. Divagi dalam 2 tahap. Berarti, mereka meraup Rp 100  juta/KK, per-tahun. Dalam dua tahun kemiskinan lenyap dari Bengkalis" kata seorang warga.

Toh, masalah Bengkalis tidak sesederhana itu. Kronisme kemiskinan Bengkalis, setuju atau tidak, sudah tumbuh akibat salah urus negeri ini sejak puluhan tahun silam.

Kita napak tilas ke Era Bupati Syamsurizal. Orientasi pembangunan Bupati yang merakyat ini, fokus pada bangunan gedung-gedung serba "wah".

Di tangan, Syamsurizal Kota Bengkalis dipoles bangunan-bangunan luar biasa. "Sayang, saat ini gedung-gedung itu pada telantar," kata warga Bengkalis.

Lantas, apa urgensi gedung-gedung besar itu, untuk kemiskinan? Nyaris tidak tersentuh. Kemiskinan tetap.jadi komoditas.

Hari ini, premis yang menyebut warga Bengkalis jadi penonton kemewahan aparatur dan fasilitas negara, semakin diperjelas.

Gedung-gedung telantar plus bangunan-bangunan mangkrak adalah bukti masa silam. Yang disisakan sejarah dari pemimpin yang tak merakyat.

Bupati Herlian Saleh yang tampil rada adem, juga tersandung korupsi di lautan anggaran ekstra akbar di Bengkalis.

Artinya, analisis Professor Galbraith di awal tulisan ini, semakin riil jika dirunut ke  periode Bupati Bengkalis sejak 15 tahun terakhir.

Titik tumpuan, Bengkalis akan ditentukan di Pilbup 9 Desember mendatang. Kita tunggu, apakah muncul pemimpin arif atau tetap bermental korup.

Jujur saja, penentunya bukan para calon pemimpin itu. Bukan partai. Dan bukan uang. Tetapi rakyat Bengkalis sendiri.

Rakyat Bengkalis lah penentu final siapa Bupati yang akan membawa negeri ini ke jenjang kesejahteraan.Atau justru sebaliknya: Ke jurang kehancuran.....

Untuk itu, wahai sahabatku warga Bengkalis: Bersatulah! ***

 

sumber: forumkerakyatan.com




Loading...

[Ikuti Monitorriau.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0853-6543-3434/0812-6686-981
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Monitorriau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan