Nasional

Di Bengkulu.. Tapai Ketan dan Lemang jadi Ajang Ketemu Jodoh Lho !

Ilustrasi penjual lemang tapai.(google)

BENGKULU (MR) - Tapai ketan dan lemang merupakan makanan tradisional masyarakat Kabupaten Bengkulu Selatan yang mayoritas dihuni Suku Serawai.

Uniknya di Desa Masat, Kecamatan Pino, Kabupaten Bengkulu Selatan, kedua kuliner khas ini justru menjadi media pencari dan pengikat jodoh yang telah berlangsung sejak ratusan tahun.

Lemang terbuat dari beras ketan dimasak dengan cara memasukkan ketan ke bambu yang telah dibersihkan, lalu dibakar menggunakan bara api.

Ada semacam tradisi di Desa Masat, Kecamatan Pino, Kabupaten Bengkulu Selatan, setiap Rabu malam. Mereka membuat tapai ketan hitam dan lemang dan dijualnya.

"Setiap malam Kamis sudah tradisi masyarakat membuat lemang dan tapai ketan lalu dijual, memakannya dicampur dengan gulai seperti ikan, sambal ayam, telur rebus dan sebagainya. Umumnya memakan lemang dan ketan itu dijual di rumah warga," kata Rizal, salah seorang warga.

Rizal menambahkan, pada saat jual beli lemang tersebut, masyarakat, terutama kaum muda bertemu dan berkomunikasi. Ada yang sebatas pertemanan, namun tidak sedikit berlanjut ke jenjang pernikahan.

"Para pemuda datang ke tempat penjual lemang, makan, bertemu, saling berkomunikasi, kalau ada saling ketertarikan tidak sedikit yang melanjutkan hubungan ke tingkat pernikahan," jelasnya.

Rasikin, salah seorang pembuat lemang dan tapai ketan menyebutkan bahwa ia merupakan generasi kelima pewaris tradisi membuat makanan khas yang dijual setiap Rabu malam. Usaha dan tradisi tersebut ia dapatkan dari kakek buyutnya.

Setiap malam Kamis ia menghabiskan tidak kurang 150 batang lemang, satu batang lemang ia banderol Rp5.000.

"Ini warisan dari kakek buyut, saya merupakan generasi kelima. Sudah banyak pasangan muda-mudi yang berhasil menemukan jodoh dari tradisi ini. Mereka datang ke rumah saya, memakan lemang dan tapai, bercengkrama lalu mendapatkan jodoh," kisah Rasikin.

Rasikin tidak mengetahui secara pasti penyebab munculnya tradisi tersebut. Namun, menurut dia, tradisi tersebut tak terpisahkan dari aktivitas perekonomian, pasar rakyat (pekan)(kompas)




[Ikuti Monitorriau.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0853-6543-3434/0812-6686-981
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Monitorriau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan