Opini

Antara Gerindra, Jembatan dan Jalur Gaza

Ciptotti Piliang

MONITORRIAU.COM - Sabtu Sore 25 Maret 2017 sekira pukul 17:15 WIB aku mampir ke rumah Uncu, Adik Bungsu mendiang ayahku. Niat hati hendak menumpang WiFi karena ada artikel yang akan kutulis terkait profesiku sebagai jurnalis.

"To.. jembatan kalian menuju lapangan bola ambruk. Mungkin kayunya telah lapuk," kata Ronny Bahar, Uncu ku tiba-tiba.

Aku langsung teringat jembatan kayu yang menghubungkan jalan ke lapangan sepakbola di Jalan Terikat Kelurahan teluk Binjai Dumai, tempat kami membina anak-anak dalam nauangan SSB Persekat Dumai. 

Lapangan kami terletak di ujung Jalan Terikat itu, di area tanah milik PT Pelindo Dumai. Antara jalan dan jembatan dipisahkan oleh kanal selebar 4 meter dan jembatan kayu kami berada diatas kanal atau parit besar itu.

"Iya Ncu, jembatan itu memang sudah lapuk. Sudah lebih tiga tahun tu," jawabku mendengar laporan dari Uncu.

Jembatan itu akses utama menuju lapangan sepakbola kami, memang ada di ujung lapangan titian dr kayu dibuat oleh warga setempat untuk menyebrang. Namun sangat riskan sekali jika jembatan kami tak segera diperbaiki karena titian itu jadi jalan satu-satunya menuju ke lapangan dan kami takut nanti anak-anak kami malah celaka dan jatuh melewati titian itu.

Senin 27 Maret 2017 saya membuat status di dinding FB ku. Agar rekan-rekan pengurus SSB Persekat dan mantan-mantan pemain yang pernah bermain sepakbola bersama kami selama ini mengetahui ihwal jembatan tersebut. 

"Kawan-kawan... jembatan ke lapangan bola Ssb Persekat Dumai roboh...??? Apa tindakan kita ni...???" begitu kira-kira ku tulis kalimat tersebut di FB.

Megi Alfajri, pengurus sepakbola di daerah kami, sekaligus pimpinan redaksi Pesisir Pos berkomentar. "Ayo kita renovasi, tapi Dumai Timur kalau tak salah ada dewannya...tapi kemana...???"tulisnya di kolom komentar. 

"Mereka tak pernah reses di tempat kita, kata mereka jalur GAZA..." Celetuk Megi lagi, sembari men-tag sejumlah nama.

Lalu beberapa komentar dari rekan-rekan pun masuk ke status saya tersebut. Ada komen serius ada pula yang bercanda. Yahh... biasalah status atau postingan di medsos itu kan selalu mendapat komentar, jadi baik atau buruknya komentar ya santai aja. Kalau gak mau santai ya, gak usah buat status, betul kan? heee...hee..hee..

Lalu, tiba-tiba muncul komentar, "Di mano lokasi lapangan pak cik Cip Totti Piliang ??" katanya menyebut namaku. Ternyata kali ini yang muncul komen dari Iskandar Hasan,  Ketua DPC Partai Gerindra Dumai. 

Lalu muncul pula komen dari Johannes Tetelepta, Anggota DPRD dari Partai Gerindra. Aku, Megi, Pak Iskandar dan Bang Johannes saling berkomentar di status yang ku buat dengan niat menyampaikan informasi ke kawan-kawan yang biasa bermain bola di lapangan Jalan Terikat.

"Siap Insya Allah saya usahakan hadir di sana pak Cip Totti Piliang, sekalian pak Megi Alfajrin, Johannes Insya Allah hadir jam 4.30 sore," tulis pak Iskandar lagi berkomentar, menyatakan ingin datang ke lapangan kami untuk meninjau kondisi jembatan yang roboh tersebut.

Tak ayal lagi, aku langsung mengambil HP dan menghubungi rekan-rekan pengurus lapangan tersebut untuk mengabarkan kehadiran ketua dan petinggi partai milik Prabowo Subianto itu. Tak lupa pula Bang Marditono, Wartawan Pekanbaru Pos yang juga pembina SSB Persekat juga aku kabari. "ok.... siap..." jawaban dari rekan-rekan masuk ke HP usai ku kabarkan berita gembira itu. 

Benar saja, sore itu Ketua DPC Partai Gerindra Dumai Iskandar Hasan hadir, tidak sendirian bahkan kehadirannya bersama rombongan yakni Wakil Ketua DPRD Dumai Idrus ST, Anggota Dewan Gerindra dari Dapil Dumai Timur,  Syahrial Amini dan tentunya Anggota Dewan lainnya, Johannes Tetelepta.

"Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran bapak-bapak dari Gerindra. Meskipun tau informasi dari FB tapi bapak-bapak sekalian sudah cepat tanggap dan mau hadir di lapangan kami ini," ucapku menyambut kehadiran mereka.

Lalu, saya bersama RT O8 Teluk Binjai Isman Taher serta pengurus klub bola persekat lainnya bergantian menyampaikan aspirasi kami tentang jembatan dan persepakbolaan di daerah kami tersebut. Terlihat rombongan yang hadir mendengarkan dengan serius dan seksama apa yang kami sampaikan.

"Kami dari Gerindra, selalu akan menjemput aspirasi masyarakat. Walau dikatakan ini daerah Jalur GAZA, Gerindra Dumai akan tetap hadir ditengah-tengah masyarakat," ujar Pak Iskandar menimpali penyampaian warga. Penuturan itu sontak saja disambut tawa riuh dan tepuk tangan dari warga yang hadir.

Entah kenapa Ketua Gerindra, Iskandar Hasan ingat komen dari Megi soal Jalur GAZA di status FB ku tadi. Aku pun tak tau pasti apa maksud jalur GAZA yang di tulis Megi itu. Yang jelas Jalur GAZA itu daerah rawan konflik, apakah daerah kami rawan konflik?? mungkinlah karena di sana tergolong wilayah konsesi. 

Atau disebut jalur GAZA  karena warganya seperti pasukan perang sehingga enggan disinggahi wakil rakyat??? karena memang bisa dibilang belum pernah anggota dewan yang menggelar reses di lapangan kami itu. Wallahu A'lam Bishawab.

Intinya di pertemuan itu Pengurus Gerindra Dumai bersedia membantu pembangunan jembatan baru sebagai akses menuju lapangan sepakbola di daerah kami. Bersama masyarakat ke esokan harinya akan dilaksanakan gotong royong untuk membangun jembatan baru agar cepat selesai dan bisa digunakan untuk anak-anak didik kami pesepakbola junior di SSB Persekat.

Usai pertemuan itu, terbersit rasa haru dan banggaku pada Gerindra Dumai. Kendati hanya tau lewat media sosial dan bahkan sebelumnya aku belum pernah berkomunikasi secara langsung dengan Ketua Gerindra Dumai, Iskandar Hasan itu, tapi mereka mau peduli dan mengunjungi kami.

Jujur... tak banyak yang peduli dengan lapangan kami itu. Hanya kami pengurus dan senior-senior mantan pemain saja yang selalu bertungkus-lumus mengasuh, mendidik dan membiaya pemain guna mempertahankan eksistensi di ranah pembinaan sepakbola usia muda di negeri ini. 

Dalam hati aku berdoa, semoga makin banyak saja pejabat, anggota dewan dan tokoh politik yang peduli serta cepat tanggap dengan semua persoalan warga di Kota Dumai yang kita cinta ini. Seperti kalimat Charles de Gaulle, mantan Presiden Prancis, "Untuk menjadi tuan, politisi menampilkan diri seperti pelayan."***  

 

Ditulis Oleh: Ciptotti Piliang

(Jurnalis, Pembina Sepakbola Usia Dini dan Fans Berat AS Roma)




[Ikuti Monitorriau.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0853-6543-3434/0812-6686-981
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Monitorriau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan