Kesal Perkaranya Digantung, Andi Setiawan Tantang Prabowo Untuk Duel One by One
DUMAI (MR) – Forum Aksi Peduli Tenaga Kerja Lokal (FAPTekal) Dumai kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan Kejaksaan Negeri Dumai, Rabu (20/8).
Aksi ini menyoroti dugaan korupsi serta upaya penghilangan alat bukti yang diduga dilakukan oleh oknum PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU II Dumai. Massa aksi menuntut agar aparat penegak hukum tidak menutup mata terhadap laporan masyarakat yang telah lama mereka sampaikan.
Ketua FAPTekal Dumai, Ismunandar atau yang akrab disapa Ngah Nandar, menegaskan bahwa pihaknya mendesak kejaksaan untuk tetap memproses laporan dugaan tindak pidana yang melibatkan dua pejabat perusahaan, yakni Iwan Kurniawan selaku General Manager dan Syahrial Okzani selaku Manajer HSSE PT KPI RU II Dumai.
Menurutnya, kedua nama tersebut bertanggung jawab atas penghancuran pos keamanan (security post) yang kini menjadi objek perkara penyidikan di Kejaksaan Negeri Dumai.
“Kami mendesak kepada Kejaksaan Negeri Dumai untuk tetap memproses laporan kami tentang Iwan Kurniawan dan Syahrial Okzani. Mereka harus bertanggung jawab atas penghancuran pos security yang menjadi objek perkara penyidikan,” tegas Ngah Nandar saat diwawancarai di sela aksi.
Lebih lanjut, Ngah Nandar menyampaikan bahwa aksi kali ini menghasilkan capaian positif.
“Alhamdulillah aksi kami hari ini ada tiga produk hukum yang kami dapat dari Kejaksaan Negeri Dumai. Produk hukum ini akan kami jadikan dasar pengawalan untuk mengungkap kasus dugaan korupsi di tubuh PT KPI RU II Dumai,” ujarnya.
Ia menambahkan, FAPTekal berkomitmen untuk mengawal kasus ini sampai benar-benar tuntas dan transparan.
Sementara itu, dalam aksi yang sama, Andi Setiawan selaku pihak yang merasa terdampak langsung dari ulah oknum PT KPI RU II Dumai, turut menyampaikan kekesalannya.
Ia merasa dizalimi karena proses hukum berjalan lambat dan merugikan dirinya serta keluarganya. Dalam orasinya, ia bahkan melontarkan tantangan terbuka kepada penyidik kejaksaan bernama Prabowo.
“Saya tantang Prabowo untuk berduel satu lawan satu! Ini bukan main-main, karena saya sudah sangat kesal dengan proses hukum yang berlarut-larut. Saya dan keluarga dirugikan, tapi tidak ada kejelasan. Sampai kapan kami harus menunggu keadilan?” teriak Andi dengan penuh emosi di hadapan massa aksi.
Pernyataan Andi itu sontak menyedot perhatian para peserta aksi dan aparat keamanan yang berjaga di lokasi. Meski bernada keras, pihak FAPTekal memastikan bahwa aksi mereka tetap berada dalam koridor damai.
Menurut Ngah Nandar, suara lantang yang muncul dalam aksi ini adalah bentuk kekecewaan masyarakat terhadap lambannya penegakan hukum.
“Kami akan kawal terus kasus ini sampai tuntas. Jangan sampai hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Jika masyarakat kecil bisa langsung diproses ketika melanggar hukum, maka pejabat atau korporasi besar juga harus diperlakukan sama,” tutup Ngah Nandar.
