Dari Aktivis Kampus ke Kursi KPID Kepri, Jejak Langkah Ahmad Dani Mengawal Ruang Siaran Sehat
TANJUNGPINANG (MR) – Pagi itu, suasana berbeda terasa dalam agenda perdana Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kepulauan Riau. Seorang pria berusia 38 tahun tampak aktif menyapa satu per satu peserta, berbincang santai namun penuh perhatian. Dialah Ahmad Dani, SE.I figur muda yang kini dipercaya memimpin KPID Kepri.
Penunjukannya pada awal Maret 2026 bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ia terpilih secara aklamasi, menggantikan Hengki Mohari, membawa harapan baru bagi wajah penyiaran di daerah perbatasan ini. Di balik sikapnya yang sederhana, tersimpan perjalanan panjang yang membentuk karakter kepemimpinannya hari ini.
Sejak masa mahasiswa, Ahmad Dani sudah akrab dengan dunia organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa sebuah posisi yang menuntutnya belajar mendengar, merangkul perbedaan, dan mengambil keputusan di tengah dinamika. Dari sanalah, gaya kepemimpinan yang terbuka dan komunikatif mulai terbentuk.
Langkahnya tak berhenti di kampus. Ia terus bergerak di tengah masyarakat, aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, mengelola kegiatan sosial dan keagamaan, hingga terlibat dalam forum-forum intelektual di tingkat provinsi. Bagi banyak orang, Ahmad Dani bukan sekadar pengurus organisasi, melainkan sosok yang hadir langsung baik dalam diskusi, kegiatan sosial, maupun pembinaan generasi muda.
“Ini adalah amanah yang harus saya jalankan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya singkat, namun tegas. Baginya, jabatan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang sehat dan berkualitas.
Tak butuh waktu lama untuk menunjukkan arah kepemimpinannya. Di hari-hari awal menjabat, Ahmad Dani langsung turun ke lapangan melalui program Safari Penyiaran. Kegiatan ini mempertemukannya dengan berbagai elemen masyarakat tokoh agama, pemuda, hingga lembaga sosial.
Dalam forum tersebut, pembicaraan tak hanya soal siaran, tetapi juga nilai-nilai yang menyertainya: keimanan, toleransi, hingga pentingnya literasi informasi di tengah derasnya arus digital. Dari diskusi-diskusi itu pula, muncul gagasan tentang perlunya regulasi yang lebih kuat, termasuk wacana Perda Anti Hoaks.
Bagi Ahmad Dani, menjaga kualitas penyiaran bukan hanya soal pengawasan, tetapi juga soal membangun kesadaran bersama.
Langkah-langkahnya mencerminkan pendekatan yang membumi. Ia tak hanya bekerja dari balik meja, tetapi memilih hadir langsung di tengah masyarakat mendengar, berdialog, sekaligus mengedukasi.
Di wilayah seperti Kepulauan Riau, yang terbuka terhadap arus informasi lintas negara, tantangan penyiaran memang tidak sederhana. Informasi datang tanpa batas, membawa peluang sekaligus risiko. Di sinilah peran KPID menjadi krusial dan kepemimpinan yang adaptif menjadi kebutuhan.
Ahmad Dani tampaknya memahami betul hal itu. Dengan latar belakang organisasi yang kuat dan kedekatan dengan masyarakat, ia membawa pendekatan yang lebih partisipatif mengajak, bukan sekadar mengatur.
Perjalanan Ahmad Dani mungkin baru memasuki babak baru. Namun satu hal mulai terlihat jelas: ia tidak datang hanya untuk memimpin, tetapi untuk membangun ruang siaran yang lebih sehat, dan masyarakat yang lebih sadar akan informasi. (rd)
