Opini

SSB vs Full Day School

Latihan anak-anak SSB Persekat Dumai
TAHUN ajaran baru 2017/2018 kemarin, beberapa sekolah di tingkat menengah atas di Kota Dumai Provinsi Riau menerapkan kebijakan delapan jam belajar dalam lima hari sekolah atau full day school.
 
Walaupun dikatakan Presiden Jokowi tidak wajib, namun kebijakan untuk menerapkan full day school ini tentunya bakal menjadi tred bagi sekolah-sekolah populer, seperti 5 sekolah setingkat menengah atas di Kota Dumai yang menerapkan hal ini.
 
Tak hanya untuk tingkat menengah atas saja, penerapan full day school akan diujicobakan juga untuk tingkat SMP sederajat di Kota Dumai dalam waktu dekat ini.
 
Kebijakan full day school tentu saja menjadi "momok" bagi Sekolah Sepak Bola (SSB) atau klub pembina pesepakbola usia dini dan muda. Kebijakan full day school seolah "membungkam" waktu pengembangan minat dan bakat anak di sepakbola.
 
Sebagai penggiat sepakbola dan pengurus salah satu SSB di Kota Dumai merasa keberatan atas penerapan full day school ini. Bahkan saya yakin banyak pengurus SSB lainnya di negeri ini setuju dengan pendapat saya. 
 
Tanpa full day school saja sudah banyak anak-anak SSB yang terpaksa absen latihan karena alasan les sore, belajar tambahan, extrakulikuler sekolah dan berbagai alasan lainnya. 
 
Nah, dengan adanya full day school, anak-anak akan berada di sekolah sejak pukul 07.00 pagi hingga 16.00 sore. Lima hari dalam seminggu, mulai hari Senin hingga Jum'at.
 
Tentunya dalam waktu lima hari tersebut anak-anak tidak bisa mengikuti latihan di SSB. Pengelola SSB pun harus berfikir keras dan memutar otak guna mengatur jadwal latihan.
 
 
Pilihanya jadwal latihan SSB pindah ke hari Sabtu dan Minggu. Memang bisa, namun porsi latihan menjadi jauh berkurang. Normalnya dalam seminggu, SSB menerapkan 3 hari latihan dan 1 hari untuk ujicoba atau pertandingan.
 
Belum lagi hari Sabtu dan Minggu seringkali dipakai untuk pertandingan ujicoba, turnamen dan kompetisi antar ssb. Hari Sabtu dan Minggu terkadang dimanfaatkan anak-anak untuk Family Day alias hari bersama keluarga.
 
Celakanya lagi jika di hari Sabtu dan Minggu anak terpaksa absen latihan karena mengerjakan tugas kelompok atau PR yang diberikan oleh sekolah. Bukannya menyalahkan pihak sekolah, tapi itulah realita yang harus dihadapi oleh kami selaku pembina sepakbola.
 
Full day school bisa jadi salah satu faktor yang "membunuh" bibit-bibit muda atlet sepakbola yang akan menjadi andalan Kota Dumai, Provinsi Riau bahkan Negara Indonesia ini. Atau full day school menghabat talenta-talenta muda dalam mengasah kemampuannya.
 
Bukan tidak mungkin Bambang Pamungkas masa depan lahir dari Kota Dumai. Bukan tidak mungkin The Next Boas Salosa lahir di Riau. Bahkan bisa saja pemain seperti Pangeran Roma, Francesco Totti bakal lahir dari hasil pembinaan SSB kita.
 
Namun yang jelas, pertarungan SSB vs full day school jelas merugikan sepakbola, olahraga terpopuler di planet ini. Bahkan pertarungan SSB vs full day school bisa merugikan bangsa. Setidaknya itulah pendapat kami dalam perspektif pembina sepakbola.***
 
Penulis: Ciptotti Piliang
*Penggiat Sepakbola Usia Muda
*Pengurus SSB Persekat Dumai-Prov.Riau 
*Penggemar AS Roma dan Francesco Totti 




Loading...

[Ikuti Monitorriau.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0853-6543-3434/0812-6686-981
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Monitorriau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan