FJPP

Caleg Gagal, Waspadai Penyakit Ini

PEKANBARU (MR) - Kalah menang dalam kontestasi politik sebenarnya hal biasa. Namun tidak semua politikus sanggup menjalaninya. Sejatinya, mereka yang menyatakan diri untuk terjun ke dunia politik pasti sudah tahu dengan segala potensi risiko yang akan dihadapi. 
 
Namun kontestasi politik dewasa ini tidak ubahnya seperti mengguncang dadu dalam mangkok. Jika beruntung akan menang banyak, tapi jika kalah juga harus siap rugi banyak. 
 
Begitulah realitasnya, kesadaran politik masyarakat kian membuat rakyat mempu membenteng diri dari segala tipu muslihat politikus. Tentu saja Caleg yang akan maju harus mempersiapkan diri lahir batin. Jika tidak siap, maka fenomena Caleg stres tentu saja akan menghiasi ruang media. 
 
Dokter Ari Fahrial Syam sejak Pemilu 2014 silam sudah mendalami fenomena ini. Berdasarkan observasinya, fenomena Caleg gagal itu khas. Harapan yang terlalu tinggi membuat para Caleg menetapkan standar yang tinggi pula, sehingga melupakan langkah-langkah untuk mewujudkan harapan itu.
 
Dijelaskannya, jika gagal, Caleg dengan segudang ekspektasi ini akan mengalami stress dalam kategori berat karena mental tidak siap menerima kenyataan, akhirnya depresi. 
 
"Sebenarnya, kondisi demikian sangat mungkin diminimalisir, bahkan bisa untuk dikendalikan dengan penanganan dan sikap yang tepat," katanya.
 
Menurut Dokter Ari, dalam Pemilu 2019 tetap berpotensi ada Caleg depresi. Dapresi yang dialami tentu saja berbeda tingkatan, dari ringan hingga depresi dalam kategori berat (psikosis akut), karena kekecewaan yang besar. 
 
"Makanya RSUD dan RS Jiwa mengantisipasi lonjakan pasien gangguan jiwa pasca-Pemilu ini," terangnya.
 
Pada Pemilu kali ini ada 245.106 Caleg DPR RI, DPRD dan DPRD Kabupaten/Kota yang ikut dalam kontenstasi politik untuk merebutkan hanya 10 persen kursi. Jadi, ada sekitar 200.000 Caleg yang gagal. Mereka cenderung akan mengalami kekecewaan karena gagal duduk di legislatif. Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat, dari 245.106 Caleg yang mencalon itu, sekitar 3.000 Caleg belum punya pekerjaan. 
 
Selain para caleg, keluarga, politisi, para penyandang dana para caleg, juga akan menunggu harap-harap cemas apakah mereka, keluarga mereka, caleg yang mereka usung dapat berhasil. Dana yang cukup besar terus dikeluarkan selama masa kampanye merupakan salah satu faktor stress tersendiri.
 
Jika punya modal kuat, mungkin depresinya tidak seberapa. Namun jika dana yang dipakai untuk Caleg itu merupakan modal pinjaman, hasil gadaian, atau suplai dari rentenir? Maka rumah, tanah dan harta lainnya yang sudah dijamin terancam tidak kembali.
 
Selain itu, gangguan seksual, ganguan buang air kecil, obesitas, kehilangan daya ingat, infertilitas, masalah tiroid (gondok), penyakit autoimun, asma bronkiale, serta sindrom usus iritabel (irritable bowel syndrome/IBS).
 
Oleh karena itu, dr Ari menyarankan untuk pasrah siap kalah dan siap menang. Selalu dekat dengan yang Maha Kuasa. Siap menanggung dampak kekalahan seperti rasa malu yang akan memperburuk rasa stress tadi. Usahakan untuk tetap tidur dan makan teratur. 




[Ikuti Monitorriau.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0853-6543-3434/0812-6686-981
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Monitorriau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan