FEATURE

Nenek Nurmah, Si Pemulung TPA Sungai Beringin yang Sering Kemalingan

Tampak Nenek Nurmah dalam kondisi lelah melawan terik panas Matahari jelang siang di TPA Sungai Beringin, Tembilahan

TEMBILAHAN (MR) - Keseharian tampil lusuh merupakan hal biasa bagi Nurmah. Bagaimana tidak, nenek berusia 60 tahun ini hanyalah seorang pemulung.

Sudah 10 tahun lebih, dia tetap semangat memungut gelas-gelas dan botol mineral bekas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sungai Beringin, Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) - Riau.



Seperti biasa, dipagi hari, sekitar pukul 6.00 WIB, wanita lanjut usia ini turun dari rumahnya hanya jalan kaki. Langkah demi langkah, arah depan menuju TPA Sungai Beringin akhirnya tiba, sekitar 20 menit.

Sesampainya di sana, bermodalkan karung, beriringan irama burung gagak, satu persatu pelastik minuman mineral dipungut menggunakan pengait sampah. Jelas saja berkeringat, raut lelahnya terlihat secara natural.

Di "gunung" sampah itu Nurmah tidak sendiri, dia bersama beberapa rekannya, sebanyak-banyaknya 10 orang. Rutin setiap hari.



Nurmah dan rekannya sangat bergembira menyambut kedatangan Mobil Truck berwarna kuning, Truck itu tiba dari arah kota, penuh dengan sampah baru. Ditumpahkan ke jurang sampah, tepat di tengah tumpukan sampah. Dalamnya sekitar 6 meter.

"Kami turun dulu ya," kata Nurmah berpamit dari MonitorRiau.com seraya melemparkan karung dan pengait sampah miliknya ke dalam lubung itu, Kamis (14/11/2019).



Nurmah pun bergegas memegang kain panjang sebagai pengaman, secara perlahan, ia turun ke dalam lubang tersebut. Aromanya menyengat sekali, Nurmah bersama rekannya terlihat santai saja di bawah itu memburu pelastik-pelastik mineral yang diyakinkan selalu banyak pada sampah baru.

Pemandangan begitu gesit, ketika melihat rekan-rekan Nurmah berbagi buah Jeruk dan Mangga. Mereka menganggap itu adalah makanan, bukan sampah.

Bahkan ketika haus, botol-botol dan gelas mineral yang ada airnya mereka minum.

Sebab kala itu, selain pelastik mineral, barang-barang lain seperti pakaian, makanan dan lain sebagainya yang dianggap masih bisa dimanfaatkan, mereka pungut.

Setelah 30 menit berlalu, Nurmah dan rekannya pun segera kembali ke permukaan.

Hasil pungutan yang tak memadai, inisiatif Nurmah tidak langsung dijual. Pelastik-pelastik itu dikumpulkan terlebih dahulu hingga sepekan. Biasanya Nurmah memperoleh sebanyak-banyaknya full 1 karung ukuran sedang dalam setengah sehari.

Di TPA ada penyimpanan khusus baginya, esok hari hingga sepekan, pelastik-pelastik itupun terkumpul. Pembelinya tidak jauh dari "gunung" sampah. Masih dalam lingkaran TPA.

"Sekali jual (seminggu, red) paling besar saya dapat Rp 70 ribu," katanya.

Harga yang pasang-surut, tidak mematahkan semangat baginya. Sebab katanya, tidak ada upaya lain mengais rezeki selain memulung yang ia keluti selama ini.

"Kalau pelastik gelas, biasanya Rp 1.700 perkilonya. Yang rendah itu pelastik botol, kalau tak salah Rp 1.300 perkilonya," beber Nurmah.

Aktifitas tersebut hanya dilakukan dipagi hari. Sekitar pukul 11.00 WIB, satu persatu dari mereka pun kembali ke rumah masing-masing.



Nurmah hanya sendiri di rumah. Alamatnya RT 10 Kelurahan Sungai Beringin, dekat dengan persimpangan Jembatan Getek Sungai Luar yang mengarah ke Pelabuhan Parit 21 Tembilahan.

Almarhum Abdul Hamid adalah suaminya, meninggal dunia sekitar 4 tahun yang lalu. Selama bersama suami, ia tidak dikaruniai anak.

Sempat punya kebun, namun semua terjual karena kebutuhan pengobatan suaminya sebelum meninggal. "Suami saya dulu Stroke kurang lebih 6 tahun lamanya, diobati terus itu, tapi..ya sudahlah, sudah sampai waktunya," kata Nurma bernada sendu.

Sebab itu, memasuki usia senja, Nurmah harus berkeringat melawan terik setiap hari demi menyambung hidup.

Saban pagi, rumahnya yang semakin lapuk selalu ditinggal dalam keadaan tak berpenghuni. Inginnya sepulang kerja langsung makan siang. Sebab sejak pagi hari, beras dalam Magic Com dipastikan matang.

"Ya Allah," ucapnya kaget. Kondisi pintu rumah bagian dapur dalam keadaan terbuka, Magic Com berisi nasi raib dari tempatnya. Bahkan, total simpanan uang tunai senilai Rp 70 ribu juga dijarah orang tak dikenal.

Menurut Nurmah, peristiwa itu sudah beberapa kali terjadi terhadapnya. Memang tak sampai jutaan rupiah, namun harta yang dimiliki sangat berharga baginya.

Penuh kesabaran membuatnya untuk diam saja. Sebab sampai detik ini, dia belum ada melakukan upaya pengaduan kepada siapapun, terutama pihak berwajib.

"Maklumlah rumah ini, pintu dan jendela tidak terkunci kuat," curhatnya.

Rumah tanpa Stiker PKH itu adalah salah satu sisa jerih payah almarhum suaminya. Selain rumah, almarhum suaminya juga meninggalkan sedikit sawah.

"Saya juga punya sawah, tapi hasil kerja itu lebih kecil lagi dibandingkan dengan memungut pelastik," katanya mengakhiri perbincangan.***(mir)




Loading...

[Ikuti Monitorriau.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 0853-6543-3434/0812-6686-981
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Monitorriau.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan