Malaysia, Indonesia, Filipina Akan Patroli Bersama di Laut Sulu
Kuala Lumpur (MR) - Malaysia, Indonesia, dan Filipina akan memulai patroli bersama di Laut Sulu pada April mendatang. Langkah ini diharapkan bisa mengakhiri puluhan tahun situasi pelanggaran hukum di perairan kaya tersebut.
Pada Selasa (14/3), Kepala Angkatan Laut (AL) Malaysia Laksamana Ahmad Kamarulzaman, mengatakan kerja sama ini belum pernah terjadi sebelumnya serta menunjukkan tingkat kepercayaan dan keyakinan di antara ketiga negara.
“Kami pertama membicarakannya setahun lalu dan sekarang, kami meluncurkan operasi gabungan pertama kami dari Sandakan, sekitar bulan depan,” kata Ahmad saat diwawancara media Singapura, Channel News Asia (CNA).
Ahmad mengatakan AL dari ketiga negara akan bekerja sama. “Ini sangat unik bahwa tidak sering Anda mencapai kesepakatan, menunjukkan semua pihak serius dalam mengurangi tantangan di laut khususnya terkait penculikan untuk tebusan dan kejahatan lintas batas lainnya,” ujarnya.
Ahmad mengatakan inisiatif di Laut Sulu akan melibatkan tidak hanya patroli maritim, tapi juga patroli udara di perairan dan garis pantai. Rencana itu dirancang setelah patroli multilateral terbaru di Selat Malaka yang sukses menurunkan jumlah kasus pembajakan, bahkan dilaporkan hampir nol.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte juga telah memberikan Malaysia dan Indonesia “lampu hijau” untuk mengejar kapal-kapal militan di perairan Filipina. “Setiap orang nyaman dengan apa yang perlu dilakukan, sejauh itu bisa dan tidak bisa kita lakukan. Lebih penting lagi, ada penerimaan jelas dan tulus,” kata Ahmad.
Menurutnya, jika otoritas Malaysia mengidentifikasikan kapal-kapal militan, mereka bisa menangkap mereka sekalipun ke dalam perairan Filipina.
“Ini jelas membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Kami melakukan itu bersama-sama dan dalam komunikasi yang konstan. Selama dan ketika mereka mampu mengambil (kasusnya) dan melakukan tindakan, kami serahkan kepada mereka (Filipina),” ujar Ahmad.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein mengatakan Australia juga menunjukkan minatnya untuk mengambil langkah-langkah dalam melawan pembajakan di perairan bermasalah. Hal itu terlihat usai pertemuan dengan Menlu Australia Julie Bishop pada Selasa.
Laut Sulu yang terletak antara negara bagian Malaysia, Sabah, dan Filipina Selatan, sejak lama terkenal oleh para ahli keamanan sebagai “timur sangat liar”. Kelompok seperti Abu Sayyaf, yang telah bersumpah setia kepada Negara Islam (IS), telah meneror wilayah itu.*** (beritasatu)
