Istri Dibunuh, Rumah Dibakar, Delapan Anak Terlantar
MONITORRIAU.COM - INILAH akibatnya jika hanya mengedepankan emosi. Cemburu istri punya PIL, Poltak, 42, tega membunuh istrinya, Natauli, 44. Belum juga puas, rumah miliknya dibakar sekaligus, bahkan terkena rumah tetangga. Kini Poltak ditahan, kedelapan anaknya mendadak terlantar sehingga bikin repot tetangga.
Jika otak terletak di kepala, mestinya segala masalah diselesaikan dengan kepala dingin. Tapi jika otaknya di dengkul, masalah cemburu bawaannya jadi emosi melulu. Tambah parah ketika setan ikut-ikutan jadi provokator. Akibatnya, bunuh istri dan bakar rumah menjadi perkara sepele. Padahal gara-gara emosi tanpa kontrol, anak-anak akan jadi korban karenanya.
Poltak warga Rianiate, Samosir (Sumut) pendidikannya memang hanya sampai SMP. Jaman sekarang lulusan semacam itu paling-paling jadi petani buruh. Coba jika Poltak ini lulusan perguruan tinggi fakultas hukum misalnya, ke Jakarta bisa jadi pengacara bahkan politisi. Bila nasib mujur, bisa jadi anggota DPR.
Karena lulusan SMP itu tadi, akhirnya Poltak mampunya ngobok-obok sawah, dicari rumputnya, namanya: menyiangi. Tapi herannya, meski hanya menjadi petani sederhana, anaknya sampai delapan orang. Kasihan Natauli selaku istrinya, karena suami sambilannya jadi penganut aliran kebatinan. Mampunya memberi nafkah batin bagi istrinya. Hobi yang tanpa perlu modal.
Poltak memang tak pernah menyesali nasib. Meski miskin dia selalu ceria, persis Poltak yang diperankan Ruhut Sitompul dalam sinetron. Sayang kebahagiaan keluarga itu terusik ketika ada kabar bahwa istrinya punya PIL , Pria Idaman Lain.
Gara-gara isu PIL tersebut, Poltak mendadak pusing, tapi belum sampai vertigo macam Ketua DPR kita. Tapi sebagai suami benar-benar Poltak merasa dibanding-bandingkan. Maka dia mencoba klarifikasi pada Natauli, siapakah gerangan lelaki pujaan yang mau dengan perempuan tua beranak delapan tersebut.
Tapi Natauli tak mau menjawab. Meski dipaksa-paksa tetap saja tutup mulut. Akhirnya keributan menjadi menu sehari-hari dalam keluarga itu. Karena Natauli tetap ngeyel, dia jadi kesetanan. Istripun dipukul berkali-kali tepat di bagian kepala pakai kayu. Tentu saja Natauli tewas di tempat. Kala itu anak-anak sudah berangkat sekolah, tetangga sibuk di sawah.
Setelah mengeluarkan jenazah istrinya, rumah yang dianggapnya telah kotor karena jadi arena mesum, langsung dibakar. Poltak tak berfikir bahwa rumah tetangga bakal terkena api juga karenanya. Maka warga pagi itu demikian sibuk. Ada yang memadamkan api, ada yang melarikan Natauli ke rumahsakit, ada pula yang memanggil polisi untuk memproses Poltak si raja tega.
Otak di dengkul, mending otak sapi digulai lezat rasanya. (JPNN)
